Loading...
Buzzer Economy dan Ancaman bagi Demokrasi Digital
18/07/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy

Fenomena buzzer economy yang diangkat dalam tulisan Buzzer Ekonomy : Kisah Si Miskin yang Menggali Kuburnya Sendiri (Kompas.id 18/7/2026) memperlihatkan ironi besar dalam kehidupan demokrasi digital Indonesia. Di satu sisi, media sosial seharusnya menjadi ruang terbuka bagi pertukaran gagasan, kritik terhadap kekuasaan, dan partisipasi warga dalam mengawasi kebijakan publik. Namun di sisi lain, ruang yang sama justru dipenuhi oleh praktik manipulasi opini yang dilakukan secara terorganisir dan berbayar. Yang lebih menyedihkan, pelaku utama dalam rantai kerja ini sering kali berasal dari kelompok masyarakat yang secara ekonomi rentan, sehingga mereka menjadi alat untuk mempertahankan sistem yang sesungguhnya tidak selalu berpihak kepada kepentingan mereka sendiri.

Tulisan tersebut dengan tepat menggambarkan bagaimana kritik dapat dibungkam bukan melalui sensor formal, melainkan melalui kebisingan yang sengaja diciptakan. Dalam era digital, membatasi kebebasan berpendapat tidak selalu dilakukan dengan menutup media atau menangkap pengkritik. Cara yang lebih efektif adalah membanjiri ruang diskusi dengan narasi tandingan yang masif, menyerang kredibilitas lawan, atau mengalihkan perhatian publik dari isu substansial. Ketika ribuan akun bergerak secara serentak untuk menyebarkan pesan tertentu, masyarakat menjadi kesulitan membedakan mana aspirasi yang benar-benar muncul dari warga dan mana yang merupakan hasil operasi terorganisir.

Namun demikian, persoalan ini tidak bisa hanya dilihat sebagai masalah moral individu yang menjadi buzzer. Banyak orang terlibat dalam pekerjaan tersebut karena alasan ekonomi. Tingkat pengangguran, keterbatasan lapangan kerja, dan kebutuhan memenuhi kebutuhan hidup membuat sebagian orang menerima pekerjaan apa pun yang tersedia, termasuk menjadi bagian dari mesin propaganda digital. Dalam konteks ini, mereka bukan semata-mata pelaku, tetapi juga korban dari kondisi sosial-ekonomi yang lebih besar. Menyalahkan individu tanpa memahami akar masalahnya justru akan menyederhanakan persoalan yang kompleks.

Di sisi lain, keberadaan industri buzzer menunjukkan bahwa demokrasi modern menghadapi tantangan baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Jika dahulu kekuasaan bergantung pada kontrol terhadap media cetak atau siaran televisi, kini pengaruh politik dapat dibangun melalui algoritma, jaringan akun anonim, dan distribusi informasi yang sangat cepat. Akibatnya, kualitas demokrasi tidak lagi hanya ditentukan oleh kebebasan berbicara, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat untuk mengenali manipulasi informasi. Literasi digital menjadi kebutuhan mendesak agar warga tidak mudah terpengaruh oleh kampanye yang sengaja dirancang untuk menggiring opini.

Lebih jauh lagi, praktik buzzer berbayar berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap seluruh ekosistem informasi. Ketika masyarakat semakin sulit membedakan pendapat tulus dari opini yang dibayar, maka kecurigaan akan tumbuh terhadap semua pihak. Aktivis dianggap buzzer, akademisi dituduh memiliki pesanan politik, dan media dipandang memiliki agenda tersembunyi. Kondisi ini berbahaya karena dapat mengikis fondasi dialog publik yang sehat, yaitu kepercayaan bahwa perdebatan dilakukan atas dasar argumentasi dan fakta, bukan semata-mata karena imbalan finansial.

Karena itu, persoalan buzzer economy tidak cukup diatasi dengan mengecam para pelakunya. Yang lebih penting adalah membangun transparansi dalam komunikasi politik, memperkuat literasi digital masyarakat, serta menciptakan peluang ekonomi yang lebih baik agar warga tidak terpaksa menjual pengaruh dan suaranya demi kebutuhan hidup. Demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang bebas berpikir dan bebas berbicara, bukan warga yang dipaksa keadaan untuk menjadi alat dalam perang opini yang merugikan kepentingannya sendiri. Pada akhirnya, ancaman terbesar dari buzzer economy bukan hanya kebohongan yang disebarkannya, melainkan hilangnya kemampuan masyarakat untuk membedakan suara rakyat dengan suara yang disewa.

Wallāhu al-Musta'ān

Ahmad Chuvav Ibriy 

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Pemerhati Isu Kebangsaan dan Keislaman Inklusif