Ada orang yang hidupnya sederhana, tetapi hatinya penuh rasa syukur. Ada pula orang yang hartanya melimpah, tetapi hidupnya tidak pernah merasa cukup. Rumahnya besar, kendaraannya bagus, rekeningnya berisi, tetapi pikirannya tetap sibuk menghitung apa yang belum dimiliki.
Mungkin masalahnya bukan pada banyak atau sedikitnya dunia. Masalahnya adalah: di mana dunia itu diletakkan?
Dunia boleh berada di tangan. Bahkan kita memang harus bekerja, mencari nafkah, membangun rumah, mendidik anak, mengembangkan usaha, dan mengejar cita-cita. Tetapi jangan sampai dunia pindah dari tangan menuju hati. Sebab ketika dunia sudah masuk ke hati, manusia bisa kehilangan rasa cukup.
Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan kita menjadi manusia yang malas dan meninggalkan kehidupan dunia. Allah berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (di dunia untuk mencapai kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia.” (QS. Al-Qashash: 77).
Perhatikan kalimatnya. Jangan melupakan bagianmu dari dunia. Artinya, menikmati dunia bukan dosa. Memiliki harta bukan kesalahan. Menjadi kaya juga bukan aib. Yang menjadi persoalan adalah ketika semua itu berubah menjadi tujuan terakhir.
Harta seharusnya menjadi kendaraan, bukan tujuan perjalanan.
Kita bekerja mencari uang agar keluarga hidup layak. Tetapi jangan sampai karena mengejar uang, shalat ditunda. Kita membangun rumah agar keluarga nyaman. Tetapi jangan sampai rumah yang megah justru kehilangan suasana ibadah. Kita mengejar jabatan agar bisa berbuat lebih banyak. Tetapi jangan sampai jabatan membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Di sinilah letak keseimbangan yang sering hilang.
Allah bahkan mengingatkan:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16–17).
Persoalannya, manusia sering lebih tertarik kepada sesuatu yang terlihat sekarang daripada sesuatu yang dijanjikan kelak. Gaji bulan ini terasa nyata. Rumah baru bisa dilihat. Kendaraan baru bisa dikendarai. Pujian manusia bisa langsung didengar.
Sementara pahala? Surga? Kehidupan akhirat?
Semuanya membutuhkan iman untuk mempercayainya.
Karena itu, kita sering memberikan waktu terbaik untuk dunia dan sisa waktu untuk akhirat. Pagi sampai sore bekerja dengan penuh konsentrasi. Malam masih memikirkan pekerjaan. Tetapi ketika tiba waktu ibadah, kita berkata, “Nanti saja kalau sudah senggang.”
Ironisnya, kita tidak pernah benar-benar senggang.
Nabi ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat sederhana tentang dunia dan akhirat. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau menggambarkan dunia dibandingkan akhirat seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke lautan, kemudian melihat air yang menempel pada jarinya.
Hanya sedikit.
Begitulah dunia dibandingkan akhirat.
Lalu mengapa untuk sesuatu yang hanya “air di ujung jari” itu kita rela bertengkar, saling menjatuhkan, bahkan mengorbankan kejujuran?
Kita mengejar rumah, tetapi jangan sampai kehilangan keluarga. Mengejar keuntungan, tetapi jangan kehilangan kejujuran. Mengejar jabatan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan. Mengejar popularitas, tetapi jangan kehilangan keikhlasan.
Sebab yang berbahaya bukan memiliki dunia. Yang berbahaya adalah dimiliki dunia.
Orang yang dunia berada di tangannya masih bisa menggunakannya untuk kebaikan. Uangnya bisa menjadi sedekah. Jabatannya bisa menjadi jalan keadilan. Ilmunya bisa menjadi manfaat. Pengaruhnya bisa digunakan untuk membela yang lemah.
Tetapi ketika dunia sudah berada di hati, semuanya bisa berubah. Sedekah terasa mengurangi kekayaan. Jabatan menjadi sesuatu yang harus dipertahankan dengan segala cara. Kritik dianggap ancaman. Kehilangan harta terasa seperti kehilangan harga diri.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ
“Barang siapa yang akhirat menjadi cita-cita utamanya, Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Perhatikan: kekayaan yang pertama-tama diberikan Allah Swt adalah kekayaan hati.
Sebab orang kaya bukan selalu orang yang memiliki banyak. Orang kaya adalah orang yang merasa cukup.
Maka barangkali yang perlu kita lakukan bukan berhenti mencari dunia, melainkan mengubah cara kita mencari dunia.
Bekerjalah, tetapi jangan tinggalkan shalat. Berdaganglah, tetapi jangan tinggalkan kejujuran. Bangunlah rumah, tetapi bangun pula suasana ibadah di dalamnya. Carilah kekayaan, tetapi jangan lupa zakat dan sedekah. Raihlah jabatan, tetapi gunakan untuk melayani, bukan dilayani.
Dunia cukup di tangan.
Jangan biarkan ia naik ke hati.
Sebab ketika dunia hanya berada di tangan, kita masih bisa memberikannya kepada orang lain. Tetapi ketika dunia sudah memenuhi hati, untuk mengeluarkannya kadang kita membutuhkan waktu seumur hidup.
Dan ketika kematian datang, tangan kita akan terbuka dengan sendirinya.
Harta ditinggal.
Jabatan ditinggal.
Nama besar ditinggal.
Yang ikut bersama kita hanyalah amal.
Maka carilah dunia secukupnya untuk hidup, dan carilah akhirat sebanyak-banyaknya untuk pulang.
13 September 2026
Opini:
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM