Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Allah Swt tidak pernah mencabut sesuatu dari Anda, kecuali Dia menggantinya yang lebih baik. Tetapi, itu terjadi apabila Anda bersabar dan tetap ridha dengan segala ketetapan-Nya. Penggantinya adalah surga.
Sering kali kita menangis karena kehilangan sesuatu di dunia, padahal Allah Swt. sedang menyiapkan sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Itulah surga. Allah menggambarkan surga sebagai tempat yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, penuh taman yang hijau, istana-istana yang megah, dan kenikmatan yang tidak akan pernah habis. AllahSwt. berfirman:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Tidak seorang pun mengetahui berbagai kenikmatan yang menanti mereka, yang menyejukkan pandangan mata, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah: 17)
Di surga tidak ada lagi kesedihan, tidak ada penyakit, tidak ada kemiskinan, tidak ada perpisahan, dan tidak ada kematian. Allah Swt berfirman:
لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُم مِّنْهَا بِمُخْرَجِينَ
"Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya." (QS. Al-Hijr: 48)
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi (Allah Swt berfirman:)
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
"Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Bayangkan, seluruh kemewahan dunia yang pernah kita lihat hanyalah bayangan yang sangat kecil dibandingkan kenikmatan surga. Jika seluruh keindahan dunia dikumpulkan sejak zaman Nabi Adam hingga hari kiamat, semuanya tidak sebanding dengan satu kenikmatan yang diberikan Allah Swt penghuni surga. Bahkan Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa penghuni surga yang paling rendah kedudukannya tetap mendapatkan kenikmatan berkali-kali lipat lebih besar daripada kerajaan terbesar yang pernah dimiliki manusia di dunia.
Di surga, seorang mukmin akan bertemu kembali dengan orang-orang yang dicintainya yang sama-sama beriman. Tidak ada lagi perpisahan yang menyedihkan. Tidak ada lagi kuburan yang memisahkan ayah dan anak, suami dan istri, atau sahabat dengan sahabatnya. Allah akan menghimpunkan mereka dalam kebahagiaan yang abadi. Karena itulah, ketika Allah mengambil sesuatu dari seorang mukmin lalu ia bersabar, sesungguhnya Allah tidak sedang menguranginya, tetapi sedang mengarahkan pandangannya kepada kehidupan yang jauh lebih indah dan kekal.
Dan puncak seluruh kenikmatan surga bukanlah sungainya, bukan pula istananya, melainkan ketika Allah Yang Maha Mulia memperkenankan para penghuni surga memandang wajah-Nya. Saat itulah seluruh kenikmatan surga terasa kecil dibandingkan kebahagiaan melihat Rabb yang selama di dunia mereka sembah tanpa pernah melihat-Nya. Allah berfirman:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
"Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, memandang kepada Rabbnya." (QS. Al-Qiyamah: 22–23)
Maka, bagaimana mungkin seorang mukmin bersedih berkepanjangan karena kehilangan sesuatu yang fana, jika Allah Swt. sedang menawarkan kepadanya surga yang kekal dan perjumpaan dengan-Nya? Inilah rahasia mengapa para ulama terdahulu tetap tegar menghadapi musibah. Mereka tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah Swt. jauh lebih baik, lebih mulia, dan lebih abadi daripada apa pun yang hilang dari dunia ini.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb