Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Dalam kehidupan modern, banyak orang mengukur kebahagiaan dengan banyaknya harta, kemewahan, dan kenyamanan yang dimiliki. Padahal, tidak semua yang tampak menyenangkan bagi jasad akan membawa ketenangan bagi ruh. Sering kali manusia merasa gelisah ketika kekurangan, kehilangan, atau hidup dalam keterbatasan. Namun, pandangan para ulama dan orang-orang saleh mengajarkan bahwa di balik kesederhanaan terdapat keselamatan, bahkan kebahagiaan yang lebih hakiki.
Ketika seseorang tenggelam dalam kemewahan dunia, ruhnya sering kali terikat oleh berbagai keinginan yang tidak ada habisnya. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula kekhawatiran untuk menjaga dan mempertahankannya. Sebaliknya, dalam keadaan yang serba sederhana, seseorang memiliki kesempatan untuk lebih dekat kepada Allah, lebih mudah bersyukur, dan lebih ringan dalam menjalani kehidupan. Karena itu, sikap zuhud—tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama—merupakan salah satu jalan menuju ketenangan jiwa.
Allah Swt. mengingatkan dalam firman-Nya:
اِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاِلَيْنَا يُرْجَعُوْنَ
"Sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi462) beserta semua yang ada di atasnya dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan". (Maryam [19]:40)
Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh yang ada di dunia pada akhirnya akan kembali kepada Allah Swt. Harta, jabatan, dan kemegahan yang diperebutkan manusia hanyalah titipan yang bersifat sementara. Kesadaran ini seharusnya membuat manusia tidak terlalu larut dalam kesedihan ketika kehilangan sesuatu yang bersifat duniawi.
Seorang penyair pernah menggambarkan besarnya nikmat yang sering dilupakan manusia:
"Air, roti, dan naungan konon
adalah nikmat yang paling besar.
Aku mengingkari nikmat Rabb-ku
jika aku berkata itu sedikit saja."
Syair ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu terletak pada kemewahan. Air yang menyegarkan, makanan yang mengenyangkan, dan tempat berteduh yang nyaman adalah nikmat luar biasa yang sering dianggap biasa karena selalu tersedia. Padahal, banyak orang di berbagai belahan dunia yang harus berjuang untuk mendapatkan hal-hal tersebut.
Penyair lain bahkan menegaskan bahwa seseorang tidak akan pernah benar-benar miskin selama masih memiliki kesempatan hidup dan kebutuhan dasarnya terpenuhi. Ia mengungkapkan bahwa selama masih hidup, rezeki akan selalu ada, dan ketika meninggal pun manusia tetap memiliki tempat peristirahatan terakhir. Syair itu mengandung pesan bahwa sumber kesengsaraan bukanlah kurangnya harta, melainkan ketidakpuasan hati terhadap apa yang telah diberikan Allah.
Dari sini kita belajar bahwa rasa cukup (qana'ah) merupakan kekayaan yang sesungguhnya. Orang yang hatinya dipenuhi rasa syukur akan merasakan kelapangan meskipun hidup sederhana. Sebaliknya, orang yang selalu membandingkan dirinya dengan mereka yang lebih kaya akan terus merasa kekurangan meskipun memiliki banyak harta.
Kesederhanaan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kemerdekaan jiwa. Orang yang tidak diperbudak oleh ambisi dunia akan lebih mudah menjaga prinsip, lebih jujur dalam berdakwah, dan lebih istiqamah dalam menjalankan risalah hidupnya. Mereka tidak menjadikan dunia sebagai ukuran kemuliaan, melainkan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.
Oleh karena itu, janganlah bersedih atas sesuatu yang sedikit. Bisa jadi pada keterbatasan yang kita rasakan tersimpan keselamatan yang tidak kita ketahui. Terkadang Allah mengurangi sebagian kenikmatan dunia agar hati kita tidak lalai, dan agar kita lebih dekat kepada-Nya. Selama masih memiliki iman, kesehatan, kesempatan beramal, serta kebutuhan dasar yang terpenuhi, sesungguhnya kita telah memiliki banyak alasan untuk bersyukur. Sebab kebahagiaan sejati bukanlah banyaknya yang dimiliki, melainkan kemampuan untuk merasa cukup atas apa yang telah Allah Swt karuniakan.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb