Loading...
Jangan Pernah Lelah Mencintai Negeri Ini
12/06/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Puisi esai dengan judul  "Jangan Pernah Lelah Mencintai Negeri Ini " bernada reflektif sekaligus menggugah, ditujukan kepada kaum intelektual, ulama, kiai, ustadz, mahasiswa, dan santri agar tidak lelah melakukan amar ma'ruf nahi munkar demi memperbaiki negeri. 


Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy



Di negeri yang kaya ini,

sering kali kita menyaksikan ironi.

Gunung menjulang, laut terbentang,

tanah subur menghampar sepanjang zaman.

Namun di antara gemuruh pembangunan,

masih terdengar jerit keadilan yang dipinggirkan.

Ada hukum yang kadang tajam ke bawah,

namun tumpul ke atas.

Ada kekuasaan yang semestinya menjadi amanah,

namun berubah menjadi alat mempertahankan kemewahan.

Ada korupsi yang terus berganti wajah,

meski berkali-kali dipermalukan sejarah.

Dan ada rakyat kecil yang tetap setia berharap,

meski berkali-kali dikecewakan.

Di tengah semua itu,

aku bertanya kepada diriku sendiri:

Masihkah ada yang peduli?

Masihkah ada yang bersedia berdiri

saat banyak orang memilih bersembunyi?

Masihkah ada yang berani berkata benar

ketika kebohongan menjadi kebiasaan?

Lalu aku teringat pada para ulama,

para kiai yang menjaga cahaya ilmu di pesantren,

para ustadz yang mengajar dengan ketulusan,

para dosen dan intelektual yang menghidupkan akal sehat,

para mahasiswa yang menyimpan idealisme,

serta para santri yang menimba ilmu demi masa depan umat.

Bukankah kalian adalah pewaris tanggung jawab itu?

Bukankah ilmu yang diberikan Allah

bukan untuk disimpan dalam lemari kesunyian?

Bukankah pengetahuan yang dimiliki

harus menjelma keberanian untuk menegakkan kebenaran?

Amar ma'ruf nahi munkar

bukan sekadar tema khutbah dan pengajian.

Ia adalah denyut kehidupan orang beriman.

Ia adalah keberanian mengingatkan penguasa ketika keliru.

Ia adalah keteguhan menolak kebatilan meski sendirian.

Ia adalah kesediaan mengkritik dengan adab,

mengoreksi dengan hikmah,

dan memperjuangkan keadilan tanpa kebencian.

Jangan biarkan negeri ini kehilangan suara para pencinta kebenaran.

Sebab ketika orang baik diam terlalu lama,

yang bersuara hanyalah mereka yang mengejar kepentingan.

Ketika para ulama sibuk menjaga kenyamanan,

siapa yang akan menjaga nurani bangsa?

Ketika para intelektual takut kehilangan jabatan,

siapa yang akan membela kebenaran?

Ketika mahasiswa hanya mengejar gelar,

siapa yang akan menjadi suara rakyat?

Dan ketika santri merasa cukup dengan kitab-kitabnya,

siapa yang akan membawa nilai-nilai kitab itu ke tengah kehidupan?

Negeri ini tidak membutuhkan kemarahan yang membakar segalanya.

Negeri ini membutuhkan keberanian yang tercerahkan.

Keberanian yang lahir dari ilmu.

Keberanian yang dipandu akhlak.

Keberanian yang tidak menjadikan lawan sebagai musuh,

tetapi menjadikan kemungkaran sebagai sesuatu yang harus dilawan.

Kita boleh kecewa.

Kita boleh mengkritik.

Kita boleh menegur.

Namun jangan pernah membenci negeri ini.

Karena negeri ini adalah rumah kita bersama.

Di tanah ini para ulama dimakamkan.

Di tanah ini azan berkumandang.

Di tanah ini anak-anak kita tumbuh.

Di tanah ini masa depan sedang dipertaruhkan.

Maka jangan pernah lelah mencintai negeri ini.

Cintailah ia dengan doa.

Cintailah ia dengan ilmu.

Cintailah ia dengan kejujuran.

Cintailah ia dengan keberanian menyampaikan kebenaran.

Sebab cinta kepada negeri bukan berarti membenarkan semua yang terjadi.

Justru karena cinta, kita tidak rela melihatnya rusak.

Justru karena cinta, kita tidak diam saat kemungkaran merajalela.

Justru karena cinta, kita terus mengingatkan meski sering diabaikan.

Dan selama masih ada ulama yang jujur,

kiai yang istiqamah,

ustadz yang ikhlas,

intelektual yang merdeka,

mahasiswa yang idealis,

serta santri yang mencintai kebenaran,

harapan itu belum mati.

Negeri ini masih bisa diperbaiki.

Negeri ini masih bisa diselamatkan.

Negeri ini masih layak diperjuangkan.

Karena tugas kita bukan memastikan kemenangan.

Tugas kita adalah tetap menyalakan cahaya.

Meski kecil.

Meski tertiup angin.

Meski kadang terasa sendirian.

Sampai Allah menilai bahwa kita telah berusaha menjaga amanah-Nya.

Dan kepada generasi yang akan datang,

kita dapat berkata dengan tenang:

"Kami pernah mencoba menjaga negeri ini dengan ilmu, dengan iman, dan dengan keberanian." 


Semangat amar ma'ruf nahi munkar dalam puisi esai ini saya buat tidak konfrontatif, tetapi mengajak semua elemen bangsa untuk tetap mencintai Indonesia sambil terus melakukan perbaikan dengan ilmu, akhlak, dan keberanian moral.

Wallāhu al-Musta'ān 

Gresik, 12 Juni 2026