Ada masa dalam kehidupan ketika usia tidak lagi dihitung dari berapa
banyak mimpi yang ingin diraih, melainkan dari berapa banyak sahabat
yang telah lebih dahulu meninggalkan kita. Pada masa itu, hati mulai memahami
sesuatu yang dulu sering terlupakan: bahwa hidup bukanlah perjalanan untuk
menetap, melainkan perjalanan untuk kembali.
Semakin bertambah usia, semakin kita menyadari bahwa hidup bukanlah tentang
bertambahnya tahun, melainkan berkurangnya jatah waktu.
Dulu, ketika usia masih muda, hati sibuk mengejar dunia. Kita
menghitung pencapaian, membandingkan keberhasilan, dan sering gelisah karena
merasa belum sampai pada apa yang diinginkan. Kita mengira bahwa kehidupan
adalah tentang mengumpulkan sebanyak mungkin yang dapat diraih sebelum waktu
habis.
Namun kini, setelah rambut mulai memutih dan langkah tak lagi setegap
dahulu, Allah Swt memperlihatkan kepada
kita pelajaran yang berbeda.
Satu demi satu sahabat yang dahulu berjalan bersama kita dipanggil pulang.
Ada yang pernah tertawa bersama.
Ada yang pernah menangis bersama.
Ada yang dahulu memenuhi hari-hari kita dengan cerita.
Kini mereka telah lebih dahulu menempuh perjalanan yang suatu saat pasti
akan kita lalui.
Nama mereka tak lagi hadir dalam daftar undangan, tetapi hidup dalam doa-doa
yang diam-diam kita panjatkan.
Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa manusia sering tertipu oleh
panjang angan-angannya. Ia merasa kematian masih jauh, seolah ajal hanya milik
orang lain. Padahal setiap hari yang berlalu sesungguhnya bukan menambah umur,
melainkan mengurangi bagian hidup yang tersisa.
Di usia lima puluh tahun ke atas, kita mulai memahami bahwa hidup bukan
perlombaan tentang siapa yang paling lama tinggal di dunia.
Hidup adalah perjalanan menuju Allah Swt.
Di titik inilah kita mulai mengerti kebijaksanaan para leluhur Jawa yang
mengatakan, urip mung mampir ngombe—hidup hanyalah singgah untuk
minum. Sebuah ungkapan sederhana yang menyimpan hikmah mendalam. Dunia bukanlah
rumah tempat menetap selamanya, melainkan hanya persinggahan singkat bagi
seorang musafir yang sedang menuju tujuan akhirnya.
Para leluhur juga mewariskan ajaran sangkan paraning dumadi;
memahami dari mana manusia berasal dan ke mana ia akan kembali.
"Sangkan" adalah asal-usul, sedangkan "paran" adalah tujuan
akhir. Manusia berasal dari Allah Swt. dan akan kembali kepada Allah Swt.
Seluruh perjalanan hidup sesungguhnya adalah perjalanan mengenali asal ruh kita
sekaligus mempersiapkan kepulangannya kepada Sang Pencipta. Dalam bahasa
Al-Qur'an: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un"—sesungguhnya
kita milik Allah Swt dan kepada-Nya kita akan kembali.
Ketika masih muda, kita sering lebih sibuk menikmati tempat persinggahan
daripada memikirkan tujuan perjalanan. Kita mengejar jabatan, mengumpulkan
harta, memburu pengakuan, dan kadang terjebak dalam persaingan yang tak
berujung. Seakan-akan dunia ini tempat tinggal yang kekal.
Namun ketika usia bertambah dan satu demi satu orang yang kita kenal
mendahului kita pulang, kesadaran itu perlahan tumbuh. Yang terpenting ternyata
bukanlah apa yang berhasil kita kumpulkan selama singgah, melainkan bekal apa
yang kita persiapkan untuk perjalanan berikutnya.
Imam al-Ghazali mengibaratkan dunia sebagai jembatan yang
harus dilalui, bukan tempat untuk mendirikan rumah. Sedangkan para sufi
memandang kehidupan sebagai perjalanan ruh yang sedang merindukan asalnya.
Karena itu, kematian bukanlah kehancuran, melainkan kepulangan seorang
musafir menuju kampung halamannya yang sejati.
Ibn 'Arabi bahkan mengajarkan bahwa ketakutan manusia terhadap
kematian sering lahir karena ia melihat kematian sebagai perpisahan. Padahal
bagi hati yang mengenal Tuhannya, kematian adalah perjumpaan.
Sebab bagaimana mungkin seorang pecinta takut bertemu dengan Yang Dicintainya?
Maka setiap kabar kematian sahabat sesungguhnya bukan hanya berita tentang
mereka.
Itu adalah surat yang Allah Swt kirimkan kepada kita.
Pesan yang seolah berkata:
"Bersiaplah, karena engkau pun sedang menuju ke arah yang
sama."
Bukan untuk ditakuti.
Tetapi untuk disadari.
Bukan untuk membuat kita putus asa.
Melainkan agar kita memperbaiki bekal sebelum tiba waktunya.
Rambut yang memutih bukan sekadar tanda usia.
Ia adalah nasihat yang tumbuh di kepala kita setiap hari.
Tubuh yang mulai melemah bukan hukuman, melainkan panggilan lembut agar hati
mulai kembali kepada Pemiliknya.
Apa yang dahulu tampak sangat penting, perlahan kehilangan pesonanya.
Pujian manusia terasa semakin ringan.
Perdebatan yang dulu menguras tenaga tidak lagi layak dipertahankan.
Keinginan untuk selalu menang mulai digantikan oleh keinginan untuk tenang.
Sebab ketenangan yang sejati ternyata tidak lahir dari banyaknya harta,
tingginya jabatan, atau terkenalnya nama.
Ketenangan lahir ketika hati menemukan Tuhannya.
Ketika sujud terasa lebih nikmat daripada sanjungan.
Ketika doa menjadi tempat pulang dari segala kegelisahan.
Ketika kita mampu menerima takdir dengan lapang tanpa terus-menerus menuntut
dunia memenuhi seluruh keinginan kita.
Di usia ini kita mulai belajar bahwa tidak semua harus dimiliki.
Tidak semua harus dibalas.
Tidak semua harus diperdebatkan.
Sebagian perkara cukup diserahkan kepada Allah Swt.
Sebagian luka cukup disembuhkan dengan memaafkan.
Sebagian kegelisahan cukup diobati dengan dzikir.
Jalaluddin Rumi pernah berkata, "Kemarin aku cerdas sehingga
ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana sehingga aku mengubah diriku
sendiri."
Barangkali inilah pelajaran terbesar di penghujung usia: bukan mengubah
dunia agar sesuai dengan keinginan kita, melainkan mengubah diri agar lebih
siap menghadap Allah Swt
Karena itu, selagi nafas masih berhembus, perbanyaklah amal yang menenangkan
jiwa.
Perbanyak dzikir sebelum lidah tak lagi mampu menyebut nama-Nya.
Perbanyak syukur sebelum kesempatan berakhir.
Perbanyak memaafkan sebelum kita sendiri membutuhkan maaf.
Perbanyak sujud sebelum tubuh tak lagi sanggup berdiri.
Jangan biarkan usia bertambah sementara amal tetap jalan di tempat.
Jangan biarkan senja kehidupan dihabiskan hanya untuk mengumpulkan sesuatu
yang kelak akan kita tinggalkan.
Sebab pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah seberapa banyak dunia
yang pernah kita genggam.
Bukan pula seberapa terkenal nama yang pernah kita sandang.
Yang paling berharga adalah seberapa dekat hati kita kepada Allah Swt. ketika
saat pulang itu tiba.
Semoga ketika nama kita kelak disebut sebagai orang yang telah tiada, langit
menyambutnya dengan rahmat, bumi menjadi tempat peristirahatan yang lapang, dan
Allah Swt. berkenan memanggil kita dengan panggilan yang paling indah:
"Yā ayyatuhan nafsul muthma'innah. Irji'ī ilā rabbiki rādhiyatan
mardhiyyah."
"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan
diridhai."
Āmīn Yā Rabbal 'Alamīn.
Gresik, 10 Juni 2026
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa,
Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM