Loading...
LONDO IRENG
05/08/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Puisi Esai

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy


Kami belajar sejarah

bukan untuk menghafal nama-nama perang,

melainkan agar lidah kami

tidak mudah mengulang luka.

Di ruang kelas,

guru bercerita tentang kolonialisme.

Tentang serdadu yang datang dari lautan.

Tentang rakyat yang dipaksa menanam,

dipaksa membayar,

dipaksa tunduk.

Tetapi sejarah juga mengenal

wajah-wajah sebangsa

yang memilih berdiri

di belakang cambuk penjajah.


Mereka disebut

Londo Ireng.

Bukan karena warna kulit.

Bukan pula karena darah.


Melainkan karena hati

yang dianggap berpaling

dari bangsanya sendiri.

---

Tahun berganti.

Bendera telah berubah.

Lagu kebangsaan telah berkumandang

di setiap pagi.

Namun kata-kata

ternyata masih mampu

membangunkan bayangan masa silam.

Ketika sebuah istilah kolonial

dihidupkan kembali

untuk menyebut mereka

yang berbeda pendapat,


sebagian orang terdiam.

Sebagian lagi bertanya,

"Apakah kritik kini

disamakan dengan pengkhianatan?"

---

Padahal,

demokrasi tumbuh

bukan hanya dari tepuk tangan.


Ia juga hidup

dari pertanyaan.


Ia bernapas

dari keberanian

mengingatkan penguasa

bahwa kekuasaan

selalu membutuhkan cermin.


Tanpa kritik,

seorang pemimpin

hanya mendengar gema suaranya sendiri.

---

Sejarah mengajarkan,

penjilat selalu ada.

Mereka memuji

bahkan ketika kapal bocor.

Mereka berkata

"semuanya baik-baik saja,"

meski rakyat mulai gelisah.


Ironisnya,

mereka sering bersembunyi

di balik pakaian kesetiaan.

Padahal,

kesetiaan yang sejati

adalah keberanian

mengatakan

bahwa ada yang keliru.

---

Kritik

bukan selalu kebencian.

Seperti dokter

yang mengatakan penyakit

bukan karena membenci pasien.

Seperti guru

yang memberi nilai rendah

agar murid mau belajar.


Seperti ulama

yang menegur penguasa

karena mencintai negeri.

Kritik yang jujur

adalah bentuk cinta

yang paling berani.

---

Maka berhati-hatilah

dengan setiap label.

Sebab satu kata

dapat berubah menjadi tembok.

Ia memisahkan rakyat

ke dalam kubu-kubu

yang saling mencurigai.

Padahal bangsa ini

dibangun bukan oleh mereka

yang selalu sepakat,


tetapi oleh orang-orang

yang berbeda jalan pikiran

namun tetap duduk

di meja yang sama.

---

Jangan biarkan

kosakata penjajahan

menjadi bahasa

sesama anak bangsa.


Karena kemerdekaan

tidak hanya berarti

terlepas dari rantai kolonial.


Kemerdekaan juga berarti

bebas menyampaikan pendapat

tanpa kehilangan kehormatan.


Dan pemimpin yang besar

bukanlah yang memiliki

pujian paling panjang.

Melainkan

yang mampu mendengar

kritik paling keras

tanpa kehilangan kebesaran jiwanya.

Sebab sejarah

tidak hanya mencatat

siapa yang berkuasa.

Ia juga mengingat

siapa yang menjaga

persaudaraan

di tengah perbedaan.

Wallāhu al-Musta'ān 


Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik 

05/08_2026

AHMAD CHUVAV IBRIY