Ada satu perubahan besar dalam kehidupan keluarga hari ini yang sering luput kita sadari: anak-anak kita tumbuh bukan hanya di dalam rumah, tetapi juga di dalam dunia digital.
Dahulu, ketika seorang anak pulang sekolah, dunia mereka relatif terbatas pada rumah, sekolah, teman bermain, dan lingkungan sekitar. Kini, sebuah telepon genggam dapat membuka pintu menuju dunia yang nyaris tanpa batas. Dalam hitungan detik, anak bisa belajar sesuatu yang sangat bermanfaat, tetapi dalam waktu yang sama juga dapat menemukan tontonan, percakapan, permainan, bahkan nilai-nilai yang belum tentu sesuai dengan usia dan kebutuhannya.
Di sinilah peran orang tua menjadi semakin penting. Dan dalam konteks ini, ayah tidak boleh menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada ibu, sekolah, atau bahkan teknologi.
Ayah memang memiliki tanggung jawab mencari nafkah. Tetapi peran ayah tidak berhenti di depan pintu kantor, pasar, sawah, atau tempat kerja. Ayah juga memiliki tanggung jawab menghadirkan arah bagi keluarganya.
Al-Qur’an mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini memberikan pesan yang sangat dalam. Menjaga keluarga bukan hanya memastikan anak makan, sekolah, berpakaian, dan memiliki fasilitas yang cukup. Menjaga keluarga juga berarti menjaga pikiran, akhlak, pergaulan, dan arah hidup mereka.
Dalam era digital, tanggung jawab tersebut menjadi semakin kompleks.
Ayah tidak cukup hanya bertanya, "Sudah belajar?" atau "Sudah mengaji?" Sesekali perlu bertanya, "Apa yang kamu lihat di HP hari ini?" "Siapa yang kamu ikuti?" "Apa yang membuatmu tertarik?"
Pertanyaan semacam itu bukan bentuk interogasi. Ia adalah bentuk perhatian.
Anak yang merasa diperhatikan akan lebih mudah bercerita. Sebaliknya, anak yang merasa hanya diawasi akan belajar menyembunyikan apa yang mereka lakukan.
Karena itu, mendidik anak di era digital tidak cukup dengan memasang berbagai larangan. Orang tua harus membangun literasi digital di dalam keluarga. Anak perlu diajarkan bahwa tidak semua yang viral itu benar, tidak semua yang menarik itu baik, dan tidak semua yang banyak ditonton layak ditiru.
Di sinilah keteladanan ayah menjadi sangat penting.
Sulit meminta anak mengurangi penggunaan gawai jika ayah sendiri sepanjang berada di rumah tidak pernah melepaskan telepon genggam. Sulit meminta anak gemar membaca jika ayah tidak pernah terlihat membaca. Sulit meminta anak menjaga adab berbicara jika percakapan orang tua di rumah penuh dengan makian dan caci-maki.
Anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
Ayah karenanya harus menjadi "role model" pertama bagi anak-anaknya.
Tidak harus selalu dengan nasihat panjang. Kadang cukup dengan menyediakan waktu makan bersama. Mendengarkan cerita anak. Mengajak salat berjamaah. Membaca Al-Qur’an. Berdiskusi tentang sesuatu yang mereka lihat di media sosial. Atau sekadar duduk bersama tanpa masing-masing sibuk dengan layar.
Ada hal yang tidak bisa diberikan oleh teknologi: kehadiran.
Kecerdasan buatan dapat menjawab pertanyaan anak. Mesin pencari dapat memberikan informasi. Media sosial dapat memberikan hiburan. Tetapi teknologi tidak dapat menggantikan sepenuhnya kehangatan seorang ayah yang mendengarkan kegelisahan anaknya.
Karena itu, tantangan terbesar pendidikan anak di era digital sesungguhnya bukan semata-mata bagaimana menjauhkan anak dari teknologi. Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Yang lebih penting adalah mendidik anak agar mampu menggunakan teknologi tanpa diperbudak oleh teknologi.
Ayah harus hadir sebagai pembimbing, bukan sekadar pengawas. Menjadi teman berdiskusi, bukan hanya pemberi hukuman. Menjadi teladan, bukan sekadar pemberi perintah.
Sebab pada akhirnya, anak-anak mungkin akan lupa berapa mahal telepon genggam yang pernah kita belikan. Mereka mungkin juga lupa berapa banyak uang yang kita keluarkan untuk sekolah dan berbagai kebutuhannya.
Tetapi mereka akan mengingat apakah ayahnya pernah punya waktu untuk mendengarkan.
Di tengah dunia digital yang semakin ramai, mungkin tugas ayah yang paling sederhana sekaligus paling sulit adalah ini: tetap hadir.
Sebab rumah yang memiliki teknologi canggih belum tentu melahirkan anak yang tangguh. Tetapi rumah yang memiliki orang tua yang hadir, penuh kasih sayang, memberikan teladan, dan menanamkan nilai agama serta akhlak, insyaallah akan menjadi tempat terbaik bagi anak untuk belajar menghadapi dunia.
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM