Loading...
Menghargai Anak sebagai Subjek, Bukan Sekadar Masa Depan
23/07/2026 Admin Yayasan Bagikan:


Refleksi Hari Anak Nasional 

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy 


Setiap tanggal 23 Juli, peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum penting untuk kembali melihat bagaimana posisi anak dalam kehidupan masyarakat. Sering kali kita mendengar ungkapan bahwa anak adalah generasi penerus bangsa atau aset masa depan. Pernyataan tersebut memang benar, tetapi ada satu hal yang kerap terlupakan: anak bukan hanya masa depan, melainkan juga warga masyarakat yang hidup pada hari ini. Mereka memiliki hak, kebutuhan, serta suara yang patut didengar dan dihargai.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa keluarga, terutama orang tua, memikul tanggung jawab besar dalam menjaga, mendidik, dan mengarahkan anak menuju kebaikan. Karena itu, anak tidak boleh dipandang sebagai objek yang hanya menerima perintah, melainkan sebagai manusia yang memiliki hak-hak yang wajib ditunaikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak anak yang menghadapi berbagai tantangan. Sebagian mengalami keterbatasan akses pendidikan yang berkualitas, sebagian lainnya hidup dalam lingkungan yang kurang aman, bahkan tidak sedikit yang menjadi korban kekerasan fisik, verbal, maupun digital. Di era teknologi saat ini, ancaman terhadap anak tidak lagi hanya datang dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari ruang digital yang semakin sulit diawasi. Perundungan siber, penyebaran konten negatif, hingga eksploitasi anak melalui internet menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah.

Hari Anak seharusnya tidak hanya diperingati melalui kegiatan seremonial atau perlombaan semata. Peringatan ini perlu menjadi pengingat bahwa pemenuhan hak anak merupakan tanggung jawab bersama. Anak berhak mendapatkan kasih sayang, pendidikan, kesehatan, perlindungan, serta kesempatan untuk berkembang sesuai potensi yang mereka miliki. Mereka juga berhak menyampaikan pendapat dan didengarkan dalam berbagai keputusan yang berkaitan dengan kehidupan mereka.

Rasulullah SAW bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa orang tua adalah pemimpin dalam keluarganya. Mereka bertanggung jawab bukan hanya atas kebutuhan materi anak, tetapi juga atas perkembangan akhlak, keimanan, dan kesehatan mentalnya.

Peran keluarga menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak. Orang tua tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga memberikan perhatian, pendampingan, dan teladan yang baik. Di tengah kesibukan dan tuntutan ekonomi, kualitas komunikasi antara orang tua dan anak sering kali berkurang. Padahal, hubungan yang hangat dan terbuka dapat menjadi benteng pertama yang melindungi anak dari berbagai pengaruh negatif.

Pada saat yang sama, pendidikan yang disediakan orang tua juga harus mampu menjawab tantangan zaman. Ada sebuah ungkapan yang populer dan sering dinisbatkan kepada Khalifah Umar bin Khattab RA:

عَلِّمُوا أَوْلَادَكُمْ غَيْرَ مَا عُلِّمْتُمْ، فَإِنَّهُمْ خُلِقُوا لِزَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ


"Didiklah anak-anak kalian untuk menghadapi zaman yang berbeda dengan zaman kalian, karena mereka diciptakan untuk masa yang bukan masa kalian."

Terlepas dari perdebatan mengenai validitas penisbatannya, pesan yang terkandung di dalamnya sangat relevan. Anak-anak hidup di era yang berbeda dengan generasi orang tuanya. Mereka menghadapi tantangan, peluang, dan realitas yang tidak sama. Karena itu, pendidikan harus mampu membekali mereka dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, kemampuan berpikir kritis, serta akhlak yang kokoh agar mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan arah.

Pemikiran serupa juga pernah disampaikan oleh penyair dan filsuf Lebanon, Kahlil Gibran. Dalam karyanya The Prophet, ia menulis:

"Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah putra-putri kehidupan yang merindukan dirinya sendiri. Mereka lahir melalui engkau, tetapi bukan dari engkau."

Ungkapan tersebut mengingatkan bahwa anak bukanlah milik orang tua yang dapat diperlakukan sesuka hati. Mereka adalah pribadi yang memiliki potensi, cita-cita, dan jalan hidupnya sendiri. Tugas orang tua bukan mengendalikan seluruh hidup anak, melainkan membimbing, mendampingi, dan mengarahkan mereka agar tumbuh menjadi manusia yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia.

Selain keluarga, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kemampuan anak. Sekolah yang ramah anak bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang yang aman untuk bertumbuh, berekspresi, dan mengembangkan kreativitas. Lingkungan pendidikan harus bebas dari perundungan, diskriminasi, dan kekerasan dalam bentuk apa pun.

Pada akhirnya, Hari Anak mengajak kita untuk mengubah cara pandang terhadap anak. Mereka bukan sekadar objek yang harus diatur atau dibentuk sesuai keinginan orang dewasa. Anak adalah individu yang memiliki hak dan martabat yang harus dihormati. Ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kasih sayang, mereka tidak hanya memiliki peluang untuk meraih masa depan yang lebih baik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sejak hari ini.

Karena itu, peringatan Hari Anak seharusnya menjadi momentum refleksi bersama: sudahkah kita benar-benar mendengar suara anak, melindungi hak-haknya, dan memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang? Masa depan yang lebih baik tidak dimulai besok, melainkan dari bagaimana kita memperlakukan anak-anak pada hari ini.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb 


Ahmad Chuvav Ibriy 


Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM


https://www.facebook.com/share/p/1EhUkH5bgj/