Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Selama ini, dalam sehari saya berusaha menulis tiga artikel dengan bentuk yang berbeda: feature, opini, dan kolom. Sesekali saya juga menulis esai refleksi. Dan di mana saja ada kesempatan bisa menulis, akan saya manfaatkan untuk menulis.
Saya tidak ingin menulis sekadar menulis. Karena itu, sebelum sebuah tulisan dikembangkan, saya membiasakan diri membuat GBHN (Garis Besar Haluan Nulis) terlebih dahulu.
Kerangkanya sederhana:
JUDUL
↓
PEMBUKAAN
↓
MASALAH
↓
TESIS/PENDAPAT
↓
ARGUMENTASI
↓
DATA/CONTOH
↓
REFLEKSI/SOLUSI
↓
PENUTUP
Setelah naskah selesai, tulisan tersebut saya bedah kembali. Apakah judulnya sudah menarik? Apakah pembukaannya menggigit? Apakah masalahnya jelas? Apakah tesisnya kuat? Apakah argumentasinya nyambung? Apakah contoh dan datanya mendukung? Apakah penutupnya meninggalkan sesuatu bagi pembaca?
Bagi saya, menulis dengan kerangka bukan berarti membatasi kreativitas. Justru sebaliknya, GBHN membantu pikiran agar tidak ke mana-mana.
Tulisan boleh mengalir, tetapi tetap harus tahu dari mana berangkat dan hendak ke mana.
Saya masih terus belajar. Menulis tiga artikel sehari bukan berarti semuanya sudah bagus. Justru dengan terus menulis dan membedahnya, saya berharap semakin tahu letak kekurangan dan kekuatan tulisan sendiri.
Bagi saya, menulis bukan hanya soal banyaknya kata yang berhasil dituangkan. Menulis adalah bagaimana gagasan bisa sampai kepada pembaca dengan arah yang jelas, argumentasi yang masuk akal, bahasa yang enak dibaca, dan pesan yang tidak mudah hilang setelah tulisan selesai dibaca.
Insyaallah, dengan cara ini, setiap artikel yang saya kirim ke media sosial, media cetak, maupun media online bisa lebih terarah dan memiliki karakter.
Tidak selalu berhasil. Tidak selalu dimuat. Tetapi proses belajar harus terus berjalan.
Menulis bagi saya adalah salah satu cara menjaga kewarasan. Mau ada honor atau tidak, saya akan tetap menulis. Sebab, tidak semua yang kita tulis harus menghasilkan uang; sebagian cukup menjadi jalan agar pikiran tidak penuh sesak oleh kegelisahan. Dan kalau dari tulisan itu ada satu-dua orang yang merasa ditemani, tercerahkan, atau bahkan menjadi sedikit lebih waras, rasanya honor sudah menemukan bentuknya sendiri.
Karena penulis yang baik bukan yang tidak pernah salah menulis, melainkan yang mau terus menulis, membaca, membedah, dan memperbaiki tulisannya. Dan itu bisa kita lakukan syaratnya: punya waktu.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Gresik, 14 September 2026
Ahmad Chuvav Ibriy