Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Setiap kali seorang atlet menyampaikan sikap terhadap isu kemanusiaan atau politik, selalu ada satu kalimat yang muncul berulang-ulang: "Jangan bawa politik ke olahraga." Kalimat itu terdengar bijak, netral, dan masuk akal. Masalahnya, ia sering kali hanya digunakan secara selektif.
Kasus Lamine Yamal yang membawa bendera Palestina saat perayaan kemenangan kembali memperlihatkan pola lama tersebut. Dalam hitungan jam, perdebatan meledak. Ada yang memujinya sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan, ada pula yang menganggapnya tidak pantas karena mencampuradukkan olahraga dengan politik.
Saya justru melihat persoalannya bukan pada tindakan Yamal, melainkan pada cara kita memahami olahraga itu sendiri.
Sepak bola modern bukan ruang hampa yang steril dari kepentingan politik. Ia adalah industri global yang setiap hari bersentuhan dengan kekuasaan, ekonomi, identitas nasional, dan diplomasi internasional. Turnamen besar sering menjadi alat pencitraan negara. Klub-klub elite dimiliki oleh kelompok bisnis yang terhubung dengan kepentingan geopolitik. Sponsor yang menempel di jersey pemain pun tidak jarang mewakili agenda ekonomi dan politik tertentu.
Karena itu, menganggap sepak bola sebagai wilayah yang sepenuhnya netral terasa sulit dipertahankan. Yang lebih sering terjadi adalah kita menerima politik yang sudah dianggap normal, lalu menolak politik yang membuat kita tidak nyaman.
Di sinilah saya setuju dengan kritik terhadap standar ganda yang kerap muncul. Ketika simbol yang ditampilkan sesuai dengan arus utama, banyak orang menganggapnya biasa saja. Namun ketika simbol itu menyentuh isu yang kontroversial, mendadak muncul seruan agar olahraga tetap netral.
Tentu saja, mendukung hak Yamal untuk mengekspresikan pendapat bukan berarti kita harus setuju dengan setiap pandangan yang ia tunjukkan. Kebebasan berekspresi tidak mengharuskan kesepakatan. Yang perlu dijaga adalah konsistensi dalam menghormati hak seseorang untuk menyampaikan sikapnya.
Meski demikian, ada satu hal yang menurut saya tetap perlu dikritisi. Kita hidup di era ketika simbol sering kali mendapatkan perhatian lebih besar daripada substansi. Sebuah bendera, unggahan, atau gestur bisa menjadi viral dalam hitungan menit, sementara diskusi yang lebih mendalam mengenai akar masalah justru tenggelam.
Akibatnya, perdebatan sering bergeser dari persoalan kemanusiaan menjadi pertarungan identitas. Orang lebih sibuk menentukan siapa yang harus didukung daripada membicarakan bagaimana penderitaan manusia bisa dihentikan. Padahal inti dari solidaritas seharusnya bukan kemenangan satu kubu atas kubu lain, melainkan kepedulian terhadap mereka yang menjadi korban.
Dalam konteks itu, saya melihat tindakan Yamal sebagai sesuatu yang sah dan wajar. Seorang atlet, meskipun terkenal, tetaplah manusia yang memiliki hati nurani, pandangan, dan empati. Mengharapkan mereka hanya menjadi mesin hiburan tanpa hak untuk menyampaikan sikap adalah tuntutan yang tidak realistis.
Pada akhirnya, yang membuat sebagian orang marah mungkin bukan karena sepak bola telah dicampuri politik. Sepak bola sudah lama bersentuhan dengan politik dalam berbagai bentuk. Yang sebenarnya mengganggu adalah ketika pesan yang disampaikan tidak sesuai dengan posisi yang mereka sukai.
Karena itu, perdebatan tentang Yamal sesungguhnya bukan tentang sepak bola. Ia adalah perdebatan tentang konsistensi, kebebasan berekspresi, dan keberanian kita untuk mengakui bahwa netralitas sering kali tidak senetral yang kita bayangkan.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik
https://www.instagram.com/reel/Da12L2Rv7I7/?igsh=N295ZzB1bDY2ZzZw