Loading...
Potret Pendidikan Kita: Ijazah, Literasi, dan Keteladanan
08/06/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy


Belakangan ini, kita sering menjumpai kenyataan yang memunculkan keprihatinan. Seorang lulusan SLTP kesulitan menjawab soal perkalian sederhana seperti 8 × 3, tidak hafal sila kedua Pancasila, atau tidak mampu menjelaskan pengetahuan dasar yang seharusnya telah dipelajari bertahun-tahun di bangku sekolah. Mungkin ini hanya satu kasus, tetapi ia mengundang pertanyaan yang lebih besar: ada apa dengan pendidikan kita?


Pertama, pendidikan kita semakin bergeser dari orientasi memahami menjadi sekadar menyelesaikan jenjang. Banyak siswa naik kelas dan lulus, tetapi penguasaan kompetensi dasar seperti membaca, berhitung, dan pengetahuan kewarganegaraan masih lemah. Nilai rapor kadang terlihat baik, namun kemampuan riil tidak selalu sejalan. Akibatnya, pendidikan lebih sering diukur dari angka kelulusan daripada kualitas pemahaman peserta didik.

Fenomena ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa sekolah sering kali lebih fokus memastikan peserta didik menyelesaikan kurikulum daripada memastikan mereka benar-benar menguasai materi. Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini dapat melahirkan generasi yang memiliki ijazah, tetapi tidak memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk menghadapi tantangan kehidupan.


Kedua, budaya digital telah mengubah pola belajar. Anak-anak hari ini dibanjiri informasi, video pendek, dan hiburan yang serba cepat. Akibatnya, kemampuan konsentrasi, menghafal, membaca panjang, dan berpikir mendalam sering menurun. Mereka mengenal banyak hal secara sekilas, tetapi tidak mendalami. Tidak sedikit yang lebih hafal tren media sosial, nama selebritas internet, atau potongan video viral daripada materi pelajaran dasar yang menjadi fondasi pengetahuan.

Teknologi tentu bukan musuh pendidikan. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana belajar yang sangat efektif. Namun tanpa pendampingan yang tepat, banjir informasi justru dapat membuat anak kesulitan membedakan mana pengetahuan yang penting dan mana yang sekadar hiburan sesaat. Pendidikan akhirnya kalah bersaing dengan budaya instan yang menawarkan kesenangan tanpa proses.


Ketiga, pendidikan karakter dan keteladanan juga menghadapi tantangan baru. Ketika sebagian guru dan siswa lebih sibuk mengejar popularitas di media sosial daripada membangun budaya ilmu, maka terjadi pergeseran nilai. Tentu tidak semua konten kreatif guru itu salah. Banyak pula yang memberikan manfaat besar. Namun jika orientasinya hanya mengejar likes, followers, dan sensasi, sementara wibawa pendidik terabaikan, maka pendidikan kehilangan salah satu unsur terpentingnya, yaitu keteladanan.

Padahal sejak dahulu, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan metode mengajar, tetapi juga oleh kualitas figur yang menjadi panutan. Seorang guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan pembimbing yang membentuk cara berpikir, sikap, dan karakter peserta didik. Ketika keteladanan melemah, maka proses pendidikan kehilangan ruhnya.


Keempat, kita juga perlu jujur bahwa masalah ini bukan hanya kesalahan siswa atau guru. Lingkungan keluarga, budaya masyarakat, sistem evaluasi pendidikan, hingga kebijakan negara ikut mempengaruhi. Anak yang tumbuh di lingkungan yang minim budaya membaca, diskusi, dan penghargaan terhadap ilmu pengetahuan akan menghadapi tantangan lebih besar dalam belajar.


Di banyak rumah, televisi dan gawai sering lebih dominan daripada buku. Percakapan keluarga lebih banyak berkisar pada hiburan daripada pengetahuan. Padahal pendidikan yang kuat selalu lahir dari sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sekolah tidak mungkin bekerja sendirian.

Karena itu, yang kita perlukan bukan sekadar menyalahkan generasi muda, melainkan melakukan koreksi bersama. Sekolah harus kembali meneguhkan kemampuan dasar literasi dan numerasi. Guru perlu menjadi teladan ilmu dan akhlak. Orang tua harus menghidupkan budaya belajar di rumah. Negara juga perlu memastikan bahwa kebijakan pendidikan tidak hanya mengejar angka statistik, tetapi benar-benar meningkatkan kualitas pembelajaran.


Media sosial pun seharusnya menjadi sarana edukasi, bukan sekadar panggung pencarian popularitas. Kemajuan teknologi perlu diarahkan untuk memperkuat budaya membaca, berpikir kritis, dan mencintai ilmu pengetahuan.

Jika seorang lulusan SLTP belum lancar menghitung 8 × 3 atau lupa sila kedua Pancasila, yang perlu kita tanyakan bukan hanya, "Ada apa dengan murid itu?", melainkan juga, "Ada apa dengan sistem pendidikan kita sehingga hal-hal mendasar seperti ini bisa terlewat?"


Sebab ukuran keberhasilan pendidikan bukan banyaknya ijazah yang dibagikan, bukan pula tingginya angka kelulusan yang diumumkan setiap tahun. Ukuran keberhasilan pendidikan adalah seberapa kuat ilmu, karakter, daya nalar, dan akal sehat yang tertanam pada peserta didik. Pendidikan yang berhasil bukan sekadar menghasilkan lulusan, tetapi melahirkan manusia yang mampu berpikir, memahami, dan bertanggung jawab terhadap dirinya, masyarakatnya, serta masa depan bangsanya.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb 


Ahmad Chuvav Ibriy 


Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM