Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Muktamar ke-35 telah selesai. Keputusan sudah diambil. Kepemimpinan baru telah lahir. Tetapi bagi sebagian warga NU, terutama mereka yang mengikuti dinamika Muktamar dari dekat, tentu tidak mudah menghapus begitu saja rasa kecewa yang tersisa.
Kekecewaan itu manusiawi. Bahkan mungkin justru lahir dari kecintaan yang terlalu dalam kepada NU.
Kita boleh kecewa. Kita boleh bertanya. Kita boleh mengkritik. Kita boleh bersuara keras ketika melihat sesuatu yang menurut kita menyimpang dari nilai-nilai yang diwariskan para Muassis. Tetapi satu hal yang tidak boleh kita lakukan: putus harapan kepada NU.
Saya justru ingin mengatakan kepada kawan-kawan yang kecewa: jangan mufaraqah dari NU.
Kalau kita harus mufaraqah, maka mufaraqahlah dari praktik risywah. Mufaraqahlah dari politik uang. Mufaraqahlah dari transaksi kekuasaan yang merendahkan martabat ulama. Mufaraqahlah dari segala perilaku yang membuat jam'iyah sebesar NU seolah-olah dapat ditentukan oleh kekuatan materi.
Tetapi jangan mufaraqah dari NU.
Sebab NU bukan milik satu ketua umum. NU bukan milik satu kepengurusan. NU bukan pula milik satu Muktamar.
NU adalah rumah besar yang dibangun dengan air mata, doa, ilmu, pengorbanan dan keikhlasan para ulama. Di dalamnya ada jutaan warga yang mungkin tidak tahu-menahu tentang hiruk-pikuk politik elite, tetapi setiap hari tetap membaca tahlil, mengirimkan tawassul kepada para Muassis, menghidupkan majelis taklim, mengajar anak-anak di madrasah, merawat pesantren dan menjaga tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah.
Merekalah NU yang sesungguhnya.
Karena itu, kita harus terus bersuara. Jangan diam. Tetapi suara kita jangan berubah menjadi kebencian kepada NU.
Kita kritik perilakunya, bukan kita benci jam'iyahnya.
Kita lawan risywahnya, bukan kita tinggalkan NU-nya.
Kita tolak kooptasi kekuasaannya, bukan kita cabut kecintaan kita kepada para Muassisnya.
Kita boleh berbeda pandangan dengan pengurus, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan adab kepada jam'iyah yang selama ini kita rawat bersama.
Justru setelah Muktamar selesai, tugas kita mungkin menjadi lebih berat. Sebab menjaga NU bukan hanya tugas mereka yang duduk di PBNU. Menjaga NU adalah tanggung jawab seluruh warga NU.
Dan di tengah kekecewaan itu, saya percaya masih ada harapan.
Masih ada kiai yang tidak bisa dibeli.
Masih ada ulama yang tetap memegang prinsip meskipun berhadapan dengan rayuan materi dan kekuasaan atau jabatan.
Masih ada kader yang memilih menjaga kehormatan daripada mengejar kemenangan.
Masih ada warga NU yang ketika kecewa tidak memilih pergi, tetapi memilih tetap tinggal sambil terus mengingatkan.
Mereka inilah harapan kita.
Barangkali Muktamar ke-35 meninggalkan banyak cerita yang tidak semuanya membanggakan. Tetapi sejarah NU tidak berhenti pada satu Muktamar. Perjalanan NU jauh lebih panjang daripada lima tahun masa khidmat sebuah kepengurusan.
Maka kepada kawan-kawan yang kecewa, saya ingin berkata: tetaplah di rumah.
Jangan tinggalkan NU hanya karena kecewa kepada sebagian penghuninya.
Rumah ini terlalu berharga untuk kita tinggalkan.
Kita boleh menangis karena kecewa. Kita boleh marah karena melihat ketidakadilan. Kita boleh bersuara ketika nilai-nilai yang kita yakini sedang dipertaruhkan. Tetapi setelah itu, mari kita kembali merawat NU dengan cara kita masing-masing.
Sebab mencintai NU tidak berarti harus selalu memuji pengurusnya.
Kadang-kadang, kritik yang jujur justru merupakan bentuk cinta yang paling tulus.
Dan mungkin inilah saatnya kita belajar: mencintai NU tidak harus dengan tepuk tangan. Kadang cinta itu berbentuk keberanian untuk berkata, “Ini tidak benar, dan kita harus memperbaikinya.”
Muktamar telah selesai. Tetapi perjuangan menjaga marwah NU belum selesai.
Kita tidak boleh putus harapan.
Sebab selama masih ada orang-orang yang menjaga amanah, selama masih ada kiai yang tidak menjual kehormatannya, selama masih ada kader yang berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah, dan selama hati kita masih mencintai NU, maka harapan itu masih ada.
Dan selama harapan itu masih ada, kita akan tetap berada di rumah ini.
NU harus terus kita cintai, kita rawat, kita kritisi, dan kita jaga. Bukan karena NU tidak pernah salah, tetapi karena kita percaya NU selalu punya kemampuan untuk kembali kepada jalan yang benar.
Tetaplah mencintai NU, bahkan ketika dada terasa sesak oleh kecewa. Sebab mencintai tidak selalu berarti membenarkan, dan bertahan tidak selalu berarti diam. Biarlah sebagian orang tidak memahami mengapa kita tetap berjuang; kita tidak sedang mencari tepuk tangan mereka. Kita hanya ingin memastikan, di rumah yang diwariskan para Muassis ini, masih ada hati yang setia menjaga marwahnya.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Gresik, 3 September 2026
AHMAD CHUVAV IBRIY